Fatmawati city center adalah kawasan superblok di pasarkan mulai 2015 akhir dan akan selesai pada 2020,

fatmawati city center di kawasan paling aktif di jakarta selatan baca artikel di bawah ini kenapa anda harus memilih apartemen fatwati city center

Jakarta Selatan merupakan salah satu wilayah administratif Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang menjadi incaran para investor dan pemburu properti.

Merupakan salah satu wilayah dengan aktifitas perekonomian paling aktif, area ini menampilkan gemerlap kota metropolitan dengan pemandangan pencakar langit yang selaras dengan area permukiman dan tata kota yang teratur.

Harga selangit pun dipatok untuk properti dengan kenyamanan hidup di area permukiman prestisius ini. Faktor apa saja yang membuat properti residensial di kawasan ini begitu menonjol?

Berikut ini sederet alasan mengapa harga rumah di Jakarta Selatan tinggi di pasaran dan sebanding dengan apa yang Anda dapatkan:

 1.    Lokasi Strategis

Jakarta Selatan dengan total luas sekitar 141,27 kilometer persegi, berbatasan langsung dengan Jakarta Barat dan Jakarta Pusat disebelah utara, disebelah timurnya berbatasan dengan Jakarta Timur, sebelah barat berbatasan dengan Kota Depok, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kota Tangerang serta Tangerang Selatan.

Sejumlah tol dalam kota dapat menghubungkan Anda langsung dengan pusat bisnis premium, namun disisi lain terdapat ruas tol alternatif yang mengintegrasikan Jabodetabek. Tol JORR W2 Utara yang mempersingkat Joglo-Ulujami menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kemudahan yang didapatkan dari lokasi dan akses pun terus mengerek harga properti Jakarta Selatan. Bayangkan bagi Anda yang bermukim di sekitar CBD Segitiga Emas diantaranya Sudirman, Kuningan, dan MH Thamrin serta pusat bisnis dan komersial TB Simatupang tentu sangat menguntungkan karena Anda dapat menghemat waktu dibandingkan dengan commuting setiap hari.

Oleh karena itu, wajar jika sebuah hunian di Kebayoran Baru yang terletak diantara CBD Sudirman, Cilandak, dan TB.Simatupang menembus harga tanah rata-rata 30 juta rupiah per meter persegi. Lokasi lain yang juga menjadi favorit pembeli diantaranya Tebet, Pasar Minggu, Kemang, Cilandak, dan Lebak Bulus. Selain dekat dari jalan tol dan pusat perkantoran, pusat perbelanjaan di sekitarnya juga diisi oleh tenant kuliner dan fashion ternama yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat urban.

2.    Infrastruktur dan Layanan Publik Lengkap

Sebagai wujud pembangunan yang berkelanjutan, pemerintah DKI memiliki sejumlah program unggulan seperti pembangunan Koridor baru Trans Jakarta, MRT dan LRT yang melintasi Jakarta Selatan. Nah, bagi pemilik properti di sepanjang jalur perlintasan proyek MRT Lebak Bulus-Bundaran HI dan akan menjual propertinya dalam waktu dekat, tampaknya Anda harus berpikir ulang.

Sebaiknya Anda menunggu hingga proyek MRT rampung karena diprediksi lonjakan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) di daerah yang dilintasi MRT dapat mencapai kisaran 15-30 persen. Pembangunan fasilitas-fasilitas publik yang berkelanjutan inilah yang terus berpotensi menaikkan nilai properti Anda di masa depan.

Selain akses dan transportasi umum yang memadai, wilayah administratif ini tertata cukup asri. Daerah Jagakarsa misalnya, masih memiliki Hutan Kota Srengseng Sawah yang rimbun dan menjadi resapan air. Selain itu ada pula Hutan Kota Tebet yang juga berfungsi sebagai jogging track, serta adanya Taman Tebet untuk menikmati waktu luang.

Pemerintah juga tengah gencar membebaskan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak. Yang membuat area permukiman prestisus ini kian menarik ialah tersedianya fasilitas pendidikan dan perguruan tinggi bergengsi. Memberikan kenyamanan hidup bagi Anda dan keluarga, bermukim di tengah Jakarta Selatan pun jelas tak ternilai harganya.

3.    Permintaan Tinggi, Capital Gain Menggiurkan

Kawasan ini juga diburu oleh para investor yang menjalankan bisnis jual beli properti. Melirik properti residensial yang berlokasi di titik strategis dengan dikelilingi perkantoran, pusat perbelanjaan, serta infrastruktur jalan dan transportasi, maka capital gain yang berlipat sudah mutlak didapatkan.

Tak perlu lagi menunggu waktu lama layaknya membeli properti di kawasan berkembang. Dalam jangka waktu 6 bulan saja seorang investor sudah dapat meraup keuntungan dari menjual rumah investasinya. Hunian seluas 180 meter persegi di Jagakarsa yang sebelumnya dibeli sekitar 700 juta rupiahdapat dijual seharga 990 jutaan satu semester kedepan. Ini artinya capital gain yang didapatkan sang investor mencapai 290 juta rupiah.

Apalagi jika melakukan renovasi yang mempercantik properti, maka investor dapat menjaring calon pembeli dengan tawaran harga lebih tinggi bahkan melonjak hingga 100 persen dari harga beli.

Selain tingginya permintaan yang menyuburkan bisnis jual beli properti, bisnis kontrakan dan sewa rumah pun cukup subur. Terdapat segmen pasar yang luas mengingat pendatang di ibukota beraneka ragam, mulai dari pekerja yang berasal dari luar kota hingga ekspatriat.